Potensi Desa Bajeman


1.    TUSUK SATE
Add caption
Mungkin tidak akan pernah terlintas di benak kita bahwa tusuk sate bisa menjadi peluang usaha yang cukup berpotensi dan meraup banyak keuntungan, terlebih di Madura yang memang terkenal dengan kuliner sate. Bapak Ali Mahfudz seorang kepala keluarga di dusun Padangdang desa Bajeman yang kemudian memiliki inisiatif untuk memproduksi tusuk sate sejak tahun 2017 lalu. Bapak mahfudz sendiri menilai bahwa banyak sekali masyarakat terlebih pemuda di desa Bajeman yang belum mendapatkan peluang kerja. Sehingga timbullah ide dan kemauan untuk membuka peluang kerja untuk masyarakat setempat. Beliau tidak lebih memprioritaskan hasil dari usahanya, tetapi lebih dari itu beliau ingin membuka peluang kerja bagi masyarakat yang masih kesulitan mendapatkannya.
Berawal dari ide tersebut serta melihat potensi alam di desa Bajeman yang ditumbuhi dengan banyak sekali bambu, bapak Mahfudz kemudian mencari relasi dan jaringan ke teman dekatnya yang kebetulan sudah cukup sukses dalam memproduksi tusuk sate. Lalu muncul rencana untuk memproduksi tusuk sate dengan bantuan temannya tersebut yang kemudian membantu menjadi supplyer untuk temannya tersebut yang bertempat di kecamatan Tragah Bangkalan.
Dengan modal awal kurang lebih 10 juta kemudian ditambahkan lagi dengan modal penggandaan alat-alat, bapak mahfudz sampai saat ini masih aktif menjadi pemproduksi tusuk sate satu-satunya di desa Bajeman. Kondisi saat itu, perkiraan dalam satu hari bapak Mahfudz bisa memproduksi sampai satu kwintal tusuk sate dengan ukuran dan diameter bervariasi sesuai dengan permintaan pelanggan, ada yang 20 cm sampai 30 cm. Tusuk sate yang diproduksipun bermacam-macam; seperti tusuk sate ayam, sate kambing, bahkan pentol dan sempol.
Sedangkan cara memproduksi tusuk sate ini dengan melewati beberapa step; mulai dari pemotongan bambu dengan mesin khusus, pembelah bambu yang terpotong menjadi beberapa bagian, dilanjutkan dengan penipisan bambu, pembuatan lidi bambu sesuai diameter yang diinginkan serta proses mempertajam ujung tusuk sate, dan diakhiri dengan proses pengeringan yang dalam hal ini bapak mahfudz masih menggunakan panas sinar matahari.
Sumber: Bapak Mahfudz

1.    BATU AKIK JIPEN

Dusun Jipen adalah salah satu dusun di desa Bajeman Tragah Bangkalan yang letaknya di daerah perbukitan di area paling utara desa tersebut. Tidak disangka, dusun ini memuliki banyak sekali temuan-temuan batu yang unik dan antik yang tersimpan di perbukitan Arongan dusun Jipen. Bapak Hamid penemu pertama batu-batu unik tersebut; seperti batu sisik ular, batu beras tumpah, bahkan batu yang berlapiskan tulang yang berbentuk lidah hiu. Tepatnya pada tahun 1979 bapak Hamid berhasil menemukan batu-batu tersebut dan kemudian berinisiatif untuk menjadi pengrajin batu akik. Sejak tahun itu, bapak hamid tekun penjadi pengrajin batu akik dengan alat seadanya dan masih tergolong buatan sendiri. Bapak hamid menggunakan alat manual yang harus dikayuh untuk menghaluskan batu tersebut sehingga bisa berbentuk seperti mata cincin.
Lambat laun, batu akik kemudian banyak diminati masyarakat. Begitu pula dengan batu akik milik pak hamid pun banyak diminati oleh para pencinta akik. Selanjutnya, melihat peluang yang cukup besar kemudian bapak Hamid pun mengganti mesin pembuat akitnya menjadi lebih modern dan menggunakan daya listrik. Sehingga produksi yang dihasilkan pun bisa lebih cepat bahkan mampu memproduksi 200 akik perhari. Jika pesanan meningkat, Bapak Hamid dibantu oleh sepuluh tenaga pekerja yang tidak lain adalah tetangganya sendiri.
Batu akik milik pak Hamid ini sebenarnya sempat terkenal dan banyak diperbincangkan oleh para pecinta akik dimana-mana, pelanggannya pun tersebar di beberapa provinsi di Indonesia bahkan ada beberapa pelanggan dari luar negeri; seperti Arab Saudi, Singapura, bahkan Turki. Namun, akhir-akhir ini harga akik dipasaran kembali menurun seiring banyaknya akik-aki tiruan dari luar yang mengatasnamakan batu akik Jipen, sehingga merusak harga pasar karena kwalitas yang kurang menjanjikan.
Sedangkan teknis pemasaran yang dilakukan bapak Hamid sejauh ini bervariasi; salah satunya Lapak milik pak Hamid yang bertempaqt di daerah Pecinan di Kota bangkalan. Selai itu, bapak hamid juga memasarkan menggunakan media online; baik blog, WhatsApp, bahkan Facebook, yang dibantu oleh anaknya dan beberapa pihak pecinta batu akik milik pak Hamid. Batu akiknya pun bermacam-macam: seperti batu akik sisik ular, akik model tikar, akik susun, akik pospad, bahkan akik beras tumpah. Sedangkan harganya pun bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta.
Sumber: Bapak Hamid

1.    AYAM PEDAGING

Bertempat di dusun Jipen Desa Bajeman Tragah Bangkalan, ibu Ruqoyyah tekun menjadi peternak ayam pedaging. Bermula dari tahun 2017 kemaren beliau bersama suaminya mulai menjadi peternak dan menjadi supplyer ayam pedaging. Saat ini beliau masih memiliki satu unit kandang dengan jumlah ayam ternak tidak kurang dari 300 ekor bulan. Bisnis milik ibu Ruqoyyah ini tergolong tertua di desa Bajeman.
Ayam ternak milik ibu Ruqoyyah ini berada di bawah naungan salah satu PT di Surabaya. Ayam yang baru lahir kemudian dibawa menggunakan mobil pengangkut yang berjumlah ratusan dari Surabaya. Kemudian ditempatkan dikandang ibu Ruqoyyah dengan ukuran kurang lebih 4 x 8 meter. Dengan menggunakan Lampu penghangat yang berjumlah 5 buah dan wadah makan dan minum ayam dengan jumlah 100 buah lebih, ayam ternak ibu Ruqoyyah ini bisa dipanen saat berumur 32 sampai 35 hari.  Kemudian dijemput oleh PT yang bersangkutan untuk didistribusikan ke berbagai tempat untuk dijadikan ayam pedaging/potong. Saat ini ibu Ruqoyyah sendiri sudah merencanakan membangun satu unit kandang lagi untuk menambah jumlah ternak perbulannya.       
Sumber: Ibu Ruqoyyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar